Perempuan dan Kebebasan

Saya ingin marah. Saya ingin memaki. Saya ingin berteriak. Apakah salah jika akhirnya saya terlihat mengerikan dengan segala hal-hal kotor dan tingkah laku yang buruk? Salahkah jika saya yang tampilan luarnya alim, tetapi mencoba untuk bertingkah yang bertolak belakang dengannya?

Kadang saya heran dengan dunia ini yang bikin kita harus-selalu tampil santun. Bahkan sekadar mengekspresikan kekesalan pun kita seakan nggak punya kuasa. Hm. Baiklah, bukan nggak boleh. Bahkan mungkin nggak ada yang larang. Namun, norma dan segala macam blablabla dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang akhirnya bikin kita nggak bisa mengekspresikan perasaan kita.

Saya lebih banyak bergulat dengan norma-norma yang kadang saling bertolak belakang. Pada akhirnya, saya malah kehilangan keseimbangan. Saya bingung. Saya hanya bisa diam dan bergelut dengan diri sendiri. Kadang kesel juga sih kenapa saya nggak bisa mengekspresikan apa yang saya rasakan. Nggak tahu deh.

Kemarin sore, Eka dan saya menonton film Kartini. Sebuah film yang menurut saya, well, bolehlah. Walaupun sebenarnya masih jauh dari ekspektasi. But, setidaknya sudah cukup lah sebagai hiburan.

Ada banyak hal yang membuat saya bisa merasakan apa yang Kartini rasakan. Saya tidak pernah sih mendalami kisah Kartini, soalnya saya semacam kurang sreg saja membaca biografi perempuan yang terlalu Jawa banget. Ayolah, Indonesia nggak cuma Jawa doang, kenapa emansipasi selalu diidentikan dengan sosok Kartini. Kenapa segala-gala melulu tentang Jawa. Saya seorang Sulawesi yang besar di Papua. But well, mungkin Kartini sebagai contoh saja tentang bahasan Perempuan dan kebebasan (walaupun masih kesel, tapi saya juga nggak punya sosok famous lainnya —karena keterbatasan ilmu— yang bisa dijadiin contoh bahasan, sih).

Saya bisa merasakan perasaan Kartini yang menggebu-gebu pengen mendobrak tradisi yang kadang nggak manusiawi banget. Tradisi yang bertele-tele dan nggak wajar. Kalau Kartini nggak melakukannya, maka dia akan kena marah dan bisa jadi kena sangsi dari keluarganya. Saya pernah mengalami yang serupa, pas pulang kampung tahun lalu dan ada macam-macam ritual gitu, saya nggak pengen melakukannya sebelum dijelaskan dulu kenapa dan apa konsekuensinya kalau semisal saya nggak melakukannya. Saya baru bertanya kayak gitu saja langsung kena cecar dari A sampai Z, bahkan saya langsung dicap kurang ajar oleh sepupu-sepupu saya juga tante-tante saya. Mereka pada bilang saya nggak ada gunanya disekolahin jauh-jauh sampai ke Jawa. Padahal sedikit pun, saya nggak ada tendensi merendahan siapa pun. Salahkah jika saya bertanya? Jika mereka bisa menjelaskan kepada saya tentang hal tersebut dengan baik, nggak perlu dipaksa pun saya bakalan antusias dan mungkin esok lusa bakalan berdiri di garis terdepan untuk mengkampanyekan betapa pentingnya ritual-ritual tsb.

Saya pun sempat bertengkar dengan Papa. Titik itu mungkin titik dimana saya muak banget sama sifat-sifat yang menentang kebebasan berpikir juga berekspresi seseorang. Seperti halnya Kartini yang dikhawatirkan menjadi gadis yang liar, mungkin itu juga yang dipikirkan oleh sepupu-sepupu, tante-tante, dan juga Papa saya tentang saya. Saya jadi omongan di keluarga Papa dan Mama. Bahkan sampai sekarang Adik saya selalu menyinggung masalah tersebut dan mengaitkannya dengan kelambanan saya lulus. Saya pengen geprek dan maki-maki dia. Saya pengen bilangin kalau kurang kaca, saya bisa kok kasih kaca yang gede untuknya. Saya pengen bilangin juga kalau dia justru lebih banyak bikin pusing orangtua, tetapi kok ya, saya malah pengen nangis karena nggak tega meruntuhkan semangatnya dalam berproses menjadi lebih baik dan bahagiain orangtua (Kalau bukan Kakaknya ini yang memberikan penghargaan atas usaha-usaha kecilnya ketika lingkungan tidak menghargainya, lalu siapa lagi?). Lagipula kalaupun benar kelambanan ini karena orangtua masih menyimpan kekesalan atau pernah mengamini ucapan saya yang nggak pengen lanjut kuliah, ya, berarti orangtua saya juga kudu introspeksi. Nggak cuma saya. Sampai segitunya coba pikiran jahat ini merusak kewarasan. Padahal, jika komunikasi bisa dilakukan dengan baik, nggak perlu sampai ada saling tuding kayak gitu.

Kesabaran. Kesabaran itu seperti apa, sih? Kenapa rasanya sakit terus yang didapatkan. Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Midah, Simanis Bergigi Emas bahwa pemahaman akan sesuatu pada akhirnya mengantarkan kita pada kesakitan. Kita berusaha memahami orang lain, berusaha memahami, terus, terus, terus. Hingga kita sadar bahwa kita melulu yang memahami tanpa pernah dipahami. Kita terus yang mengalah tanpa pernah orang lain mau melihat kebenaran di dalam sikap ataupun ucapan kita.

Saya sampai merasa ada benarnya juga omongan sepupu, tante, dan Papa. Rasanya sia-sia saja bersekolah sampai ke tanah Jawa jika akhirnya apa yang saya dapatkan malah dipasung kembali. Saya disuruh sekolah, disuruh belajar ini itu, tetapi saya dilarang untuk mengaplikasikannya. Lalu, apa gunanya semua ini? Jika memang demikian, sejak awal pasung saja sampai badan ini hancur. Jangan beri harapan setinggi langit jika esok lusa hanya untuk memberi tahu bahwa ketinggian itu membuat jatuh yang teramat sakit.

Terkadang, saya merasa takut membayangkan skripsi saya selesai sebab itu juga menandakan berakhirnya kebebasan ini. Saya tak diizinkan untuk berkarir sesuka hati. Saya dipaksa (dan akhirnya memaksakan diri) untuk pulang ke kampung halaman atau rumah di Timika. Bahkan ketika saya bilang nantinya tak ingin bekerja di perusahaan atau kantoran, tetapi belajar hal-hal di luar jurusan yang ditekuni semasa kuliah, saya kena cecar lagi. Saya nggak apa-apa kok diatur, asal untuk hal-hal yang intim bagi diri saya semacam cita-cita dan masa depan, boleh dong pendapat saya dipertimbangkan juga. Terkadang pun, saya suka ketakutan setiap kali memikirkan esok lusa keluarga besar saya turut campur perihal siapa pendamping hidup saya, harus kerja apa, setelahnya tinggal dimana, mau ngapain, dll, yang terlalu berlebihan. Pendapat saya diabaikan itu sudah sering, tetapi saya tidak pernah kecewa. Kekecawaan saya justru ketika pendapat itu menyangkut diri saya, tetapi saya tidak ada kuasa sama sekali untuk turut campur.

Saya bahkan tidak punya kuasa atas diri sendiri. Lalu, untuk apa saya dilahirkan dan hidup sampai detik ini, Tuhan? Kenapa manusia terlalu banyak menciptakan aturan-aturan yang terkadang bertentangan dengan aturan-Mu? Saya ingin diatur oleh-Mu, tetapi nyatanya aturan dunia sukses membuatku berputar di dalamnya dan kepayahan mengikuti aturanMu.

Saya. Sampai. Detik. Ini. Masih. Kehilangan. Harapan.

Masih. Belum. Menemukannya. Lagi.

Saya.

Jatuh.

Sejatuh.

Jatuhnya.

Saya turut merasakan kemalasan luar biasa setiap kali memikirkan paska lulus tak bisa lagi melakukan hal-hal kesukaan saya seperti ikut kegiatan bermasyarakat, keluar rumah paska maghrib, pergi ke kota, jalan-jalan seorang diri, dll. Saya harus mengubur impian saya sampai mati.

Saya terkekang.

Saya ingin bebas.

Saya ingin teriak.

Senyap terlalu pekat.

Saya hanya bisa menangisi ketidakberdayaan ini.

Ada salah satu adegan di film Kartini yang begitu membekas. Adalah ketika Ibunda Kartini mengeluarkan Kartini dari kamar pingitan dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati di tepi danau.

“Apa yang sudah kamu dapatkan dari Belanda?”

“Kebebasan.”

“Apa yang tidak bisa kamu dapatkan dari Belanda?”

“Tidak tahu, Buk.”

“Bakti, Nak. Bakti.”

Memang benar, sih. Namun, tetap saja rasanya sulit melakukan pengorbanan sebesar Kartini. Kecuali, saya siap mengguncang keluarga besar dari pihak Papa dan Mama. Kecuali, saya siap menghadapi kritik.

Saat ini, saya memilih untuk melepas saja semua harapan-harapan saya demi Mama. Demi Mama. Demi Mama… toh kalau menuruti Mama tidak akan pernah ada ruginya dan semoga Allah memberikan yang jauh lebih baik. Saya sudah sering bahas tentang ini di blog ini. Hm. Walaupun sampai sekarang saya masih terus berupaya menemukan win-win solution berhadapan dengan Papa juga, sih.

Jika Kartini mendefenisikan cinta adalah surga dan neraka itu juga, saya punya defenisi cinta sendiri yang saya pelajari dari Mama, “Cinta itu memaafkan dan mengikhlaskan.” Cukup. Begitu. Saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s